4Materi Khutbah Jumat Paling Bagus Akhir Bulan Dzulqa'dah Daftar Khutbah Jumat PDF Lengkap Selama Bulan Ramadhan 2022, karena inti dari kurban adalah solidaritas atau saling menghargai dan ketulusan murni untuk mengharap keridhaan Allah. Semoga Kita semua tergolong orang-orang yang sholih dan sabar..
Makaperbedaan keyakinan itu harus diakomodasi dengan baik dengan saling menghargai satu sama lain. Allah berfirman: لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ "Bagimu lah agamamu dan bagiku lah agamaku". (Qs. al-Kafirun:6) Jamaah salat Jumat yang berbahagia Demikianlah khutbah pertama ini.
Menghargaiperbedaan dan menjaga persatuan masyarakat adalah bagian dari dakwah Islam yang harus tetap kita lestarikan. بَا رَكَ الله ِليْ وَ لَكمْ بِالْقرْ اَنِ الْكَريْم, وَ نَفَعَنِيْ وَإِيَّا كُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأَيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم, وَ تَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَ وَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم.
TeksKhutbah Jumat Berikut ini adalah teks khutbah Jumat yang dapat dipakai untuk memberikan khutbah Jumat di masjid-masjid secara umum. Khutbah. Naskah Khutbah Jumat: Perintah Saling Menghargai dan Menghormati. By Toni Ardi. 01/07/2021. 2 Mins read. Naskah Khutbah Jumat Paling Bagus Berikut ini adalah naskah khutbah Jumat paling bagus
Applememinta karyawan untuk saling menghargai keputusan untuk bermasker atau tidak. Cabut Kewajiban Bermasker, Apple: Jangan Ragu untuk Terus Pakai Jika Merasa Lebih Nyaman | Republika Online REPUBLIKA.ID
Padakhutbah ini, khotib mengangkat tema tentang sikap menghargai perbedaan di momen pilkada dan pentingnya menjaga persatuan kesatuan bangsa. sebagai sebuah negara, indonesia merupakan negara yang beragam: Ragam agamanya, ragam warna kulitnya, ragam bahasanya, ragam adat serta budaya. apalagi pada ini kita akan melaksanakan pesta demokrasi
Semogalewat Khutbah jumat siang ini, kita akan menjadi orang-orang yang bisa saling menghargai tanpa saling menyakiti, menjadi orang-orang yang berjuwa besar dengan menjunjunng tinggi nilai-nilai peradapan dan kemanusiaan dan mampu selalu menghargai pendapat orang lain. Dan semoga kita termasuk orang-orang yang berjala lurus di jlan yang
BacaJuga: Khutbah Jumat - Mendidik Anak Menjadi Insan Bermanfaat, Dalam Rangka Menyambut Hari Anak 23 Juli. Kejadian ini langsung dibuatkan narasi untuk menyudutkan pemerintah dengan menarasikan pemerintah gagal, Menghargai dan saling mengenal satu sama lain, merupakan salah satu cara untuk bertakwa kepada Allah SWT.
BacaJuga Khutbah Jumat: Menyikapi Wabah Virus Corona (Covid-19) Sebaliknya, Islam memerintahkan umatnya untuk saling menghormati dan menghargai. Maka, jika terdapat kesalahan dan kekeliruan sesama saudara muslim, harus kita ingatkan dan nasihati secara baik dan bijak. Bukan menjadi bahan untuk saling ejek dan ancam.
scbZUlS. Naskah khutbah Jumat kali ini menjelaskan tentang perbedaan umat manusia dan perbedaan pendapat di lingkungan ulama. Naskah khutbah ini mengingatkan kita semua untuk bersikap bijak dalam merespons perbedaan tersebut. Simak Khutbah Jumat ini! اَلْحَمْدُ للهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ رَسُولِ اللَّهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاه. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَانَبِيّ بعدَهُ. أَمَّا بَعْدُ فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. وَقَالَ اِذَا جَاءَكَ الْمُنٰفِقُوْنَ قَالُوْا نَشْهَدُ اِنَّكَ لَرَسُوْلُ اللّٰهِ ۘوَاللّٰهُ يَعْلَمُ اِنَّكَ لَرَسُوْلُهٗ ۗوَاللّٰهُ يَشْهَدُ اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ لَكٰذِبُوْنَۚ Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah Allah SWT menciptakan dunia ini dengan penuh keragaman dan perbedaan. Manusia dilahirkan dalam bentuk yang berbeda-beda, baik jenis kelamin, warna kulit, bentuk tubuh, dan lain-lain. Semua perbedaan ini adalah bagian dari rahmat Tuhan yang harus diterima dan disyukuri. Bayangkan bila semua makhluk Tuhan itu sama. Semua makhluk hidup laki-laki, tidak ada yang perempuan. Dunia tidak akan terasa indah dan pasti membosankan. Justru dengan adanya perbedaan itu dunia menjadi indah. Dalam Surat Al-Hujurat ayat 13, Allah SWT berfirman يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ Artinya, “Wahai manusia, sungguh Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang wanita dan menjadikanmu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kamu saling mengenal. Sungguh orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang bertakwa. Sungguh Allah Maha mengetahui lagi Maha mengenal.” Surat Al-Hujurat ayat 13. Dalam ayat lain, Surat Hud, Allah SWT berfirman وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً “Artinya Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikanmu manusia umat yang satu…..” Perbedaan yang ada di dunia ini adalah bagian dari kehendak Tuhan. Pasti ada tujuannya mengapa makhluk hidup diciptakan berbeda-beda. Di antara tujuannya adalah saling mengenal antara satu sama lainnya. Perbedaan di sini tidak hanya sebatas perbedaan fisik, tetapi juga perbedaan pemikiran. Antara satu manusia dan manusia lainnya terkadang punya pemikiran yang berbeda-beda, termasuk dalam memahami agama. Perbedaan itu disebabkan oleh banyak faktor, bisa jadi karena pendidikan, tempat tinggal, perbedaan sumber bacaan, dan lain-lain. Perbedaan pemahaman dalam agama pun merupakan sesuatu yang sangat biasa di dalam Islam dan tidak perlu dipusingkan, apalagi dijadikan permasalahan. Rasulullah, semasa hidupnya, tidak mengingkari adanya perbedaan para sahabat dalam memahami apa yang dikatakannya. Malahan, Rasulullah kerapkali membenarkan dua pendapat yang berbeda-beda, selama tidak bertentangan dengan syariat. Dalam sebuah riwayat yang terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah pernah mengutus beberapa orang sahabat berkunjung ke perkampungan Bani Quraizhah. Sebelum berangkat, Rasul berpesan, “Kalian jangan shalat ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah.” Tidak ada satupun sahabat yang bertanya mengenai maksud dari pernyataan Rasulullah ini. Semuanya tampak sudah memahami apa yang dikehendaki Rasulullah. Di pertengahan jalan, waktu ashar sudah masuk. Salah seorang sahabat mengusulkan agar shalat terlebih dahulu. Khawatir kalau perjalanan dilanjutkan waktu shalat habis. Sementara sahabat yang lain menolak usulan itu. Alasannya, Rasul memerintahkan shalat di perkampungan Bani Quraizhah. Meskipun waktu shalat ashar habis. Kedua belah pihak dari rombongan sahabat ini bersiteguh dengan keyakinannnya masing-masing dan tidak ada yang mengalah. Sahabat yang ingin mengerjakan shalat ashar di jalan memahami pesan Nabi secara substansial atau kontekstual. Sementara sahabat yang lain memahaminya secara literal dan tekstual. Dua sudut pandang ini tentu melahirkan dampak dan implikasi yang berbeda. Kalau perintah Nabi di atas dipahami secara kontekstual, maksudnya adalah Nabi memerintahkan agar sahabat yang diutus segera sampai di tempat yang dituju sebelum waktu shalat asar selesai. Artinya, kalau pun tidak sesuai harapan, ketika waktu shalat sudah masuk di tengah perjalanan, tetap diwajibkan shalat saat itu. Namun sahabat yang memahami secara literal berpandangan bahwa Nabi memerintahkan shalat asar di perkampungan Bani Quraizhah dan tidak boleh dilakukan di tengah perjalanan, sekalipun waktu shalat sudah masuk. Dikarenakan tidak ada titik temu, kedua belah pihak akhirnya mengadu kepada Rasul. Setelah mendengar penjelasan mereka, Rasul membenarkan keduanya dan tidak menyalahkan salah satunya. Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah Kalau di masa Nabi saja perbedaan pemahaman terhadap apa yang dikatakan Rasulullah sudah terjadi, apalagi setelah Rasulullah wafat. Pada masa sahabat misalnya, perbedaan pendapat di kalangan sahabat juga sering terjadi. Misalnya, dalam hadits riwayat Muslim disebutkan, Abdullah bin Umar menyatakan bahwa Rasulullah berkata, ’Mayat akan diazab dalam kubur lantaran tangisan keluarganya”. Pernyataan ini kemudian dikritik oleh Aisyah, istri Rasulullah, karena apa yang disampaikan Abdullah bin Umar ini sekilas bertentangan dengan Al-Qur’an. Dalam surat al-An’am ayat 164, Allah SWT berfirman, “Seseorang tidak akan memikul beban dosa orang lain.” Menurut Aisyah, hadits tentang mayat diazab karena tangisan keluarganya itu memiliki konteks dan latar belakang. Hadits itu disampaikan ketika Rasulullah melihat jenazah orang Yahudi yang sedang ditangisi keluarganya. Rasulullah bersabda, “Mereka menangisinya, sementara dia diadzab di dalam kuburnya.” HR Bukhari. Mayat tersebut diadzab bukan karena tangisan keluarganya, melainkan karena kekafirannya. Kedua sahabat ini sama-sama mendengar dari Rasulullah. Hanya saja, Abdullah bin Umar tidak menyebutkan konteks haditsnya. Sementara Aisyah lebih mengetahui konteksnya. Meskipun sama-sama berasal dari Rasulullah, pemahaman akan berbeda bila sebuah hadits dipahami secara utuh dengan pemahaman yang tidak memahami secara utuh dan tidak melihat konteksnya. Masalahnya, tidak semua hadits di dalam kitab hadits yang sampai pada kita menyebutkan konteksnya. Sehingga, memahami hadits perlu merujuk pada penjelasan ulama yang otoritatif, supaya tidak tergelincir pada salah pemahaman. Jamaah Jum’at yang Dirahmati Allah Masa Nabi terjadi perbedaan, di masa sahabat juga demikian, apalagi di masa kita. Saat ini ada banyak pandangan dan pemikiran di sekitar kita. Ada banyak mazhab dan aliran. Terkadang kita bingung untuk memilih pada yang harus diikuti. Prinsipnya, kita harus mengakui bahwa ada keragaman pendapat di dalam Islam. Kita tidak perlu memusingkan ataupun menolak keragaman pendapat itu. Abdul Wahhab al-Sya’rani dalam Mizanul Kubra mengatakan فإن الشريعة كالشجرة العظيمة المنتشرة وأقوال علمائها كالفروع والأغصان، فلا يوجد لنا فرع من غير أصل، ولا ثمرة من غير غصن، كما لا يوجد أبنية من غير جدران Artinya “Syariat itu seperti pohon besar yang bercabang-cabang. Perkataan ulama seperti cabang dan rantingnya. Tidak ada cabang tanpa akar/asal. Tidak ada buah tanpa bersandar pada ranting. Sebagaimana halnya tidak ada bangunan tanpa dinding..” Maksudnya, setiap pendapat ulama pasti mengacu pada dalil di dalam syariat. Tidak mungkin seorang ulama menyampaikan pendapat tanpa merujuk pada dalil Al-Qur’an dan hadits. Makanya, ketika melihat perbedaan pendapat, yang perlu diperhatikan adalah alasannya. Karena tidak mungkin ulama yang menyampaikan pendapat asal ngomong dan tidak punya alasan. Al-Sya’rani menambahkan لايسمى أحمد عالما إلا أن بحث عن منازع أقوال العلماء، وعرف من أين أخذوها من الكتاب والسنة، لا من ردها بطريق الجهل والعدوان Artinya, “Tidak dinamakan Ahmad sebagai orang alim kecuali dia menelusuri perbedaan pendapat ulama dan mengerti dari mana sumbernya, baik dari Al-Qur’an maupun hadits, dan tidak menolaknya dengan cara bodoh ataupun menentang.” Orang yang alim itu justru adalah orang yang mengerti perbedaan pendapat ulama beserta alasan mereka berbeda. Sementara orang yang bodoh adalah orang yang menolak dan menentang perbedaan pendapat yang memiliki rujukan terhadap Al-Qur’an dan hadits. Perbedaan pendapat di dalam Islam ditoleransi selama tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan hadits. Dalam kaidah fiqih disebutkan لا ينكر المختلف فيه وإنما ينكر المجمع عليه Artinya, "Tidak boleh mengingkari perkara yang masih diperdebatkan, tetapi yang harus diingkari adalah perkara yang sudah disepakati.” Karenanya, sebagai muslim, kita harus bijak dalam melihat perbedaan, termasuk perbedaan pendapat dalam memahami agama. Jangan suka menyalahkan orang yang berbeda pendapat dengan apa yang kita pahami. Tanya dulu alasan dan argumentasinya. Karena bisa jadi pendapat yang berbeda itu juga punya rujukannya di dalam Islam. Khutbah II الْحَمْدُ لِلَّهِ وَ الْحَمْدُ لِلَّهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلَّهِ. أَشْهَدُ أنْ لآ إلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيّ بعدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ والقُرُوْنَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ عِبَادَاللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ Ustadz Hengki Ferdiansyah, pegiat kajian hadits dan fiqih, tinggal di Jakarta. Konten ini hasil kerja sama NU Online dan Biro Humas, Data, dan Informasi Kementerian Agama RI
Khutbah Pertama إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ وَأَمِيْنُهُ عَلَى وَحْيِهِ ومُبلِّغُ النَّاسِ شَرْعَهُ، مَا تَرَكَ خَيْرًا إِلَّا دَلَّ الْأُمَّةَ عَلَيْهِ وَلَا شَرًّا إِلَّا حَذَّرَهَا مِنْهُ فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ مَعَاشِرَ المُؤْمِنِيْنَ عِبَادَ اللهِ اَتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى؛ فَإِنَّ مَنِ اتَّقَى اللهَ وَقَاهُ، وَأَرْشَدَهُ إِلَى خَيْرِ أُمُوْرِ دِيْنِهِ وَدُنْيَاهُ. وَتَقْوَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا عَمَلٌ بِطَاعَةِ اللهِ عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ رَجَاءَ ثَوَابِ اللهِ، وَتَرْكٌ لِمَعْصِيَةِ اللهِ عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ خِيْفَةَ عَذَابِ اللهِ . Ibadallah, Di antara nikmat besar dari Allah kepada kita dalam kehidupan beragama ini adalah Dia menjadikan agama ini menjaga hal-hal yang maslahat bagi para hamba. Agama ini menjaga hak-hak sesama hamba. Seorang hamba dijamin kebahagiaannya dalam agama ini, jikalau mereka menegakkan hak-hak saudara mereka sesama muslim. Yaitu hak-hak yang telah digariskan oleh agama yang penuh berkah ini. Karena agama kita adalah agama yang menjaga hak dan memperhatikan kemaslahatan. Ibadallah, Di antara contoh yang sangat menarik yang Islam ajarkan kepada kita dalam menjaga hak-hak sesama saudara kita adalah bimbingan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sai’d al-Khudri radhiallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ فِي الطُّرُقَاتِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لَنَا بُدٌّ مِنْ مَجَالِسِنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلَّا الْمَجْلِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهُ قَالُوا وَمَا حَقُّهُ ؟ قَالَ غَضُّ الْبَصَرِ ، وَكَفُّ الْأَذَى ، وَرَدُّ السَّلَامِ ، وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ ، وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ. “Janganlah kalian duduk-duduk di tepi jalanan.” Para sahabat bertanya, “Sesungguhnya kami perlu duduk-duduk untuk berbincang-bincang.” Beliau berkata, “Jika kalian tidak bisa melainkan harus duduk-duduk, maka berilah hak jalan tersebut.” Mereka bertanya, “Apa hak jalan tersebut, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, tidak mengganggu menyakiti orang, menjawab salam, memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar”. HR. Bukhari dan Muslim. Ibadallah, Lima hal ini dituntunkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam kepada kita, lima hal ini dikenal dengan istilah hak-hak jalan. Dan kelimanya bukan berari membatasi hak-hak jalan itu hanya ada lima saja. Hak-hak jalan banyak sekali dan lima hal ini adalah di antaranya. Oleh karena itu, terdapat hadits lain dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam permasalahan ini. Seperti menunjuki dalam hal kebaikan, menolong orang yang dizalimi, dan lain-lain. Ibadallah, Sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam hadits ini “berilah hak jalan tersebut” adalah sebuah prinsip penting dalam hak-hak tersebut, lalu beliau memberikan beberapa contoh di antaranya. Ibadallah, Jika saja orang-orang yang duduk-duduk di pinggir jalan mempraktikkan hal ini niscaya keadaan kaum muslimin akan baik. Berilah hak jalan tersebut, adalah sebuah kalimat ringkas yang sarat akan makna. Wajib bagi kita semua untuk memperhatikannya, mempraktikannya dalam kehidupan kita dan sosialisasi kita di masayarakat. Kita praktikkan tiap kali kita keluar dari rumah kita. Setiap Nabi shallallahu alaihi wa sallam keluar dari rumahnya, beliau mengucapkan, اللَّهمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلُّ ، أَوْ أَزلَّ أَوْ أُزَلُّ ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمُ ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari aku tersesat, atau aku menyesatkan, atau membuat tergelincir, atau aku digelincirkan, atau aku menzalimi atau aku dizalimi, atau membodohi atau dibodohi.” Apa yang beliau lakukan itu mempertegas akan kaidah dan prinsip agung yang telah kita sebutkan tadi yakni berilah hak jalan tersebut. Berilah hak-hak jalan adalah sebuah prinsip agung yang kita butuhkan bersama. Perlu kita praktikkan dalam kehidupan kita agar kita selamat dan aman dan demikian juga orang lain dapat merasakan keselamatan dan keamanan dari perbuatan kita. Para ulama terdahulu sering berdoa, اللَّهُمَّ سَلِّمْنِي وَسَلِّمْ مِنِّي “Ya Allah selamatkanlah aku dan selamatkanlah orang-orang dari gangguanku.” Sekali lagi khotib tekankan, wajib bagi kita untuk memberikan hak-hak jalan. Agar kehidupan yang bahagia dan sosialisasi antar sesama dengan akhlak mulia dapat terwujud. Ibadallah, Kalau kita perhatikan keadaan masyarakat kita saat ini, kita menyaksikan sebuah muamalah dan sosialisasi yang cukup memprihatinkan. Banyak dari kita yang meremehkan hak-hak dan mengabaikan kewajiban. Di antaranya, ada orang yang duduk sambil meminum jus atau memakan suatu makanan, kemudian mereka membuang sampahnya ke jalanan. Bukankan tempat itu akan dilewati oleh orang yang lebih tua darinya dan saudaranya sesama muslim? Bukankah jalan-jalan itu akan dilalui tetangganya? Dimanakah haknya jalan dan dimanakah haknya kaum muslimin? Orang-orang yang membuang sampah sembarangan di jalanan tanpa kepedulian, manakah praktik mereka dari prinsip yang agung ini? Hal-hal ini, yakni muamalah yang jelek yang kita lihat dilakukan orang-orang dari mobil-mobil mereka ketika mereka mengendarainya di jalanan. Mereka melakukan muamalah yang menimbulkan gangguan, tidak memperhatikan hak jalan. Di antara mereka juga ada yang menimbulkan suara yang bising baik dari suara kendaraan atau radio yang dikencangkan volumenya. Ada juga yang kebut-kebutan dan mengabaikan rambu-rambu. Bahkan sebagian pemuda melakukan aksi ugal-ugalan di jalanan, mereka sama sekali tidak menghargai hak jalan dan pengguna jalan. Betapa banyak hak orang yang dizalimi dan aturan-aturan yang dilanggar karena tingkah pola yang demikian. Ibadallah, Contoh-contoh yang diberikan Nabi dan aturan-aturan yang maslahat lainnya menunjukkan akan persamaan hak. Wajib bagi setiap muslim bertakwa kepada Allah dalam urusan ini. Menjaga hak-hak saudaranya di jalan raya. اَللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى هُدَاكَ وَأَصْلِحْ لَنَا شَأْنَنَا كُلَّهُ، وَوَفِّقْنَا لِكُلِّ خَيْرٍ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ. أَقُوْلْ هَذَا الْقَوْلَ وَاَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ. Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ، وَاسِعِ الْفَضْلِ وَالْجُوْدِ وَالْاِمْتِنَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. Ibadallah, Di antara teladan menarik lainnya dari bimbingan Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam menjaga hak jalan adalah menajaga ketenangan orang lain. Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam keluar dari Arafah menuju Muzdalifah bersama rombongan kaum muslimin, beliau memegang pendek tali kekang ontanya agar onta berjalan perlahan dan tenang. Kemudian beliau bersabda, أَيُّهَا النَّاسُ السَّكِينَةَ السَّكِينَةَ “Wahai rombongan, berjalanlah dengan tenang, berjalan dengan tenang.” Hal ini beliau lakukan sebagai realisasi menunaikan hak-hak jalan sehingga orang-orang lain atau jamaah haji yang lain tidak terganggu. Ketika jalanan padat, hendaknya kendaraan baik motor ataupun mobil berjalan dengan tenang. Janganlah para pengemudi tidak peduli dengan keselamatan dan hak orang lain. Jangan sampai para pengemudi membuat pengguna jalan lainnya merasa terganggu dan terancam. Wajib bagi kita semua untuk bertakwa keapda Allah Azza wa Jalla dan mempraktikkan sabda Nabi kita shallallahu alaihi wa sallam “Berilah jalan itu haknya”. وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا – رَعَاكُمُ اللهُ – عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فَقَالَ ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب٥٦] ، وقال صلى الله عليه وسلم مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا . اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَلْأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاحْمِ حَوْزَةَ الدِّيْنِ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ. اَللَّهُمّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ. اَللّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا لِهُدَاكَ وَاجْعَلْ عَمَلَهُ فِي رِضَاكَ وَأَعِنْهُ عَلَى طَاعَتِكَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَ الإِكْرَامِ. اَللَّهُمَّ وَفِّق جَمِيْعَ وُلَاةِ أَمْرِ المُسْلِمِيْنَ لِكُلِّ قَوْلٍ سَدِيْدٍ وَعَمَلٍ رَشِيْدٍ. اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، زَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَأَخْرِجْنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَأَمْوَالِنَا وَأَوْقَاتِنَا وَاجْعَلْنَا مُبَارَكِيْنَ أَيْنَمَا كُنَّا. اَللَّهُمَّ وَأَصْلِحْ لَنَا شَأْنَنَا كُلَّهُ وَلَا تَكِلْنَا إِلَى أَنْفُسِنَا طَرْفَةَ عَيْنٍ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنثوْبَنَا وَاجْعَلْ عَمَلَنَا فِي رِضَاكَ، وَوَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ، رَبَّنَا إِنَّا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتَ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ . عِبَادَ اللهِ اُذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ . Diterjemahkan dari khotbah Jumat Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad Oleh tim Artikel
Naskah khutbah Jumat kali ini mengajak kepada khalayak buat mengingat kembali perihal pentingnya sikap saling menghargai ini diharapkan kita semua dapat menghargai perbedaan satu sama lain. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini pada tampilan dekstop. Semoga bermanfaat! Redaksi اَلْØÙŽÙ…ْد٠للهÙ.اَلْØÙŽÙ…ْد٠لله٠الÙَذÙيْ جَعَلَنَا Ø´ÙØ¹Ùوْبًا ÙˆÙَقَبَائÙÙ„ÙŽ. أَشْهَد٠اَنْ لَا اÙلٰهَ اÙÙ„Ùَا الله٠الْمَوْئÙل٠وَأَشْهَد٠اَنÙÙŽ سَيÙÙØ¯ÙŽÙ†ÙŽØ§ ÙˆÙŽØÙŽØ¨Ùيْبَنَا Ù…ÙØÙŽÙ…Ùَدًا عَبْدÙه٠وَرَسÙوْلÙه٠الÙَذÙيْ جَاءَ بÙه٠الرÙَسَائÙÙ„Ù. اَللÙٰهÙÙ…ÙÙŽ صَلÙ٠وَسَلÙÙمْ وَبَارÙكْ عَلٰى سَيÙÙØ¯Ùنَا Ù…ÙØÙŽÙ…Ùَد٠وَعَلٰى اٰلÙÙ‡Ù ÙˆÙŽ اَصْØÙŽØ§Ø¨ÙÙ‡ÙØ§ÙŽØ¬Ù’مَعÙيْنَ. Ø§ÙŽÙ…ÙŽÙØ§ بَعْد٠ÙَيَاأَيÙÙهَا النÙَاس٠أÙوْصÙيْكÙمْ ÙˆÙŽÙ†ÙŽÙْسÙيْ Ø¨ÙØªÙŽÙ‚ْوَى الله٠Ùَقَدْ Ùَازَ Ø§Ù„Ù’Ù…ÙØªÙÙŽÙ‚Ùوْنَ. قَالَ الله٠تَعَالَى ÙÙÙŠ Ø§Ù„Ù’Ù‚ÙØ±Ù’اٰن٠الْعَظÙيْمÙ. أَعÙÙˆÙ’Ø°Ù Ø¨ÙØ§Ù„له٠مÙÙ†ÙŽ الشÙَيْØÙŽØ§Ù†Ù الرÙَجÙÙŠÙ’Ù…Ù Ø¨ÙØ³Ù’م٠الله٠الرÙÙŽØÙ’مٰن٠الرÙÙŽØÙيْمÙوَلَا ØªÙŽØ³ÙØ¨ÙÙوا الÙَذÙيْنَ يَدْعÙوْنَ Ù…Ùنْ دÙوْن٠اللÙٰه٠ÙÙŽÙŠÙŽØ³ÙØ¨ÙÙوا اللÙٰهَ عَدْوًا Û¢ Ø¨ÙØºÙŽÙŠÙ’ر٠عÙلْمÙÛ—  كَذٰلÙÙƒÙŽ زَيÙÙŽÙ†Ùَا Ù„ÙÙƒÙÙ„Ù٠اÙÙ…Ùَة٠عَمَلَهÙمْۖ ØÙÙ…ÙÙŽ اÙلٰى رَبÙÙÙ‡Ùمْ Ù…ÙÙŽØ±Ù’Ø¬ÙØ¹ÙÙ‡Ùمْ ÙÙŽÙŠÙنَبÙÙØ¦ÙÙ‡Ùمْ بÙمَا كَانÙوْا يَعْمَلÙوْنَ. صَدَقَ الله٠الْعَظÙيْمÙ. Jamaah Jumat yg berbahagia, Segala puji milik Allah swt. yg telah menciptakan kita berbangsa-bangsa, bersuku-suku, dan beragam budaya, bahasa, hingga agama. Shalawat dan salam, kita sanjungkan kepada Nabi Muhammad saw., keluarganya, sahabatnya, serta kita semua sebagai umatnya. Di hari yg penuh berkah ini, khatib mengajak jamaah sekalian, juga terhadap khatib sendiri, buat dapat menumbuhkan ketakwaan kita kepada Allah swt, dgn menjauhi segala macam larangan-Nya, dan melaksanakan perintah-Nya. Sikap saling menghargai di atas berbagai macam perbedaan yg melekat dalam diri masing-masing ialah salah satu perintah-Nya yg harus kita jalankan dgn sepenuh jiwa. Memang, kita diciptakan dgn beragam perbedaan, mulai dari bangsa, suku, bahasa, hingga agama. Perbedaan merupakan sebuah keniscayaan yg tak dapat kita hindari. Hal ini memang menyimpan potensi konflik yg cukup besar. Karenanya, negeri ini yg sejak dahulu telah sedemikian plural telah diingatkan supaya tetap menjaga keutuhannya dgn sebuah adagium, Bhinneka Tunggal Ika, meskipun berbeda-beda, tetapi tetap satu jua. Adagium yg dicetuskan oleh Mpu Tantular dalam bukunya yg berjudul Sutasoma itu diputuskan menjadi salah satu dasar Indonesia sebagai suatu negara. Jamaah Jumat yg berbahagia, Adagium tersebut dapat kita wujudkan dgn sikap penghargaan terhadap siapa saja, sekali pun berbeda dalam banyak hal. Perbedaan suku, misalnya, tak menghalangi kita buat tetap menjalin sinergi. Meskipun berbeda kebangsaan, jangan sampai menjadi penyebab terputusnya kerja sama. Hatta perbedaan agama juga tak boleh dijadikan sebagai alasan buat tak menjalani kehidupan sosial bersama-sama. Apalagi sampai membenci dan mencaci maki atas nama perbedaan itu. Sebab, Allah swt melarang perilaku demikian. Hal tersebut ditegaskan-Nya dalam Al-Qur’an Surat Al-An’am ayat 108. وَلَا ØªÙŽØ³ÙØ¨ÙÙوا الÙَذÙيْنَ يَدْعÙوْنَ Ù…Ùنْ دÙوْن٠اللÙٰه٠ÙÙŽÙŠÙŽØ³ÙØ¨ÙÙوا اللÙٰهَ عَدْوًا Û¢ Ø¨ÙØºÙŽÙŠÙ’ر٠عÙلْمÙÛ—  كَذٰلÙÙƒÙŽ زَيÙÙŽÙ†Ùَا Ù„ÙÙƒÙÙ„Ù٠اÙÙ…Ùَة٠عَمَلَهÙمْۖ ØÙÙ…ÙÙŽ اÙلٰى رَبÙÙÙ‡Ùمْ Ù…ÙÙŽØ±Ù’Ø¬ÙØ¹ÙÙ‡Ùمْ ÙÙŽÙŠÙنَبÙÙØ¦ÙÙ‡Ùمْ بÙمَا كَانÙوْا يَعْمَلÙوْنَ Artinya “Janganlah kamu memaki sesembahan yg mereka sembah selain Allah, sebab mereka nanti mau memaki Allah dgn melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan tempat kembali mereka, lalu Dia mau memberitahukan kepada mereka apa yg telah mereka Dari ayat tersebut, jelas kita tak boleh buat mencaci maki orang lain hanya sebab berbeda. Berbeda tak berarti kita dibolehkan buat memperlakukan mereka sewenang-wenang. Kita harus tetap menjaga diri pada koridor etika universal. Lagi pula, perilaku demikian itu kontraproduktif. Pencaci pun tak mendapat untung, sedangkan yg dicaci justru tersakiti sebab ucapan-ucapannya. Menyakiti atau membuat orang lain rugi tentu tak dibenarkan di dalam agama. Jamaah Jumat yg Allah swt muliakan Sikap demikian dicontohkan secara langsung oleh Sunan Kudus. Untuk menjaga perasaan saudara-saudara beragama Hindu yg menganggap suci sapi, maka umat Muslim tak berkurban hewan tersebut. Sunan Kudus menggantinya dgn kerbau. Kebijakan ini semata buat menghormati kepercayaan mereka. Dengan begitu, mereka tetap menjalani hidup nyaman berdampingan dgn umat Muslim. Inilah sikap toleran yg harus diteladani betul. Sebab, hal tersebut juga sejalan dgn hadis Rasulullah saw. Ø£ÙŽØÙŽØ¨Ù٠الدÙÙين٠إلى الله الْØÙŽÙ†ÙÙŠÙÙÙŠÙَة٠السÙَمْØÙŽØ©Ù Artinya “Agama yg paling dicintai oleh Allah ialah yg lurus lagi Jamaah Jumat yg berbahagia, Oleh sebab itu, kita harus dapat menghargai segala macam perbedaan yg mewarnai kehidupan kita. Keseragaman justru tak nikmat buat dipandang, sedangkan pelangi indah sebab berwarna-warni, perbedaan umat ialah sebuah rahmat. Dengan sikap demikian, insyaallah kita bakal mendapat banyak keuntungan. Selain kehidupan yg nyaman dan aman, penghargaan atas perbedaan juga dapat mewarnai kebahagiaan hidup kita bersama-sama. Baca Juga Khutbah Jumat Bijak Menyikapi Perbedaan Pendapat بَارَكَ الله٠لÙيْ ÙˆÙŽÙ„ÙŽÙƒÙمْ ÙÙÙŠ Ø§Ù„Ù’Ù‚ÙØ±Ù’اٰن٠الْعَظÙيْم٠وَنَÙَعَنÙÙŠ وَاÙÙŠÙَاكÙمْ بÙمَا ÙÙيْه٠مÙÙ†ÙŽ الْاٰيَات٠وَالذÙÙكْر٠الْØÙŽÙƒÙيْم٠وَتَقَبÙÙŽÙ„ÙŽ Ù…ÙÙ†ÙÙيْ ÙˆÙŽÙ…ÙنْكÙمْ تÙلَاوَتَه٠اÙÙ†ÙÙŽÙ‡Ù Ù‡ÙÙˆÙŽ السÙÙŽÙ…Ùيْع٠الْعَلÙيْمÙ. وَأَسْتَغْÙÙØ±Ù اللهَ الْعَظÙيْمَ Ù„Ùيْ ÙˆÙŽÙ„ÙŽÙƒÙمْ ÙˆÙŽÙ„ÙØ³ÙŽØ§Ø¦ÙØ±Ù Ø§Ù„Ù’Ù…ÙØ³Ù’Ù„ÙÙ…Ùيْنَ ÙˆÙŽØ§Ù„Ù’Ù…ÙØ³Ù’Ù„Ùمَات٠Ùَيَا Ùَوْزَ Ø§Ù„Ù’Ù…ÙØ³Ù’تَغْÙÙØ±Ùيْنَ وَيَا نَجَاةَ التÙÙŽØ§Ø¦ÙØ¨Ùيْنَ Khutbah II اَلْØÙŽÙ…ْد٠لله٠الÙَذÙيْ أَنْعَمَنَا بÙÙ†ÙØ¹Ù’مَة٠الْاÙÙŠÙ’Ù…ÙŽØ§Ù†Ù ÙˆÙŽØ§Ù„Ù’Ø§ÙØ³Ù’لَامÙ. وَالصÙَلَاة٠وَالسÙَلَام٠عَلٰى سَيÙÙØ¯Ùنَا Ù…ÙØÙŽÙ…Ùَد٠ØÙŽÙŠÙ’ر٠الْأَنَامÙ. وَعَلٰى اٰلÙه٠وَأَصْØÙŽØ§Ø¨ÙÙ‡Ù Ø§Ù„Ù’ÙƒÙØ±ÙŽØ§Ù…Ù. أَشْهَد٠اَنْ لَا اÙلٰهَ اÙÙ„Ùَا الله٠الْمَلÙÙƒÙ Ø§Ù„Ù’Ù‚ÙØ¯ÙÙوْس٠السÙَلَام٠وَأَشْهَد٠اَنÙÙŽ سَيÙÙØ¯ÙŽÙ†ÙŽØ§ ÙˆÙŽØÙŽØ¨Ùيْبَنَا Ù…ÙØÙŽÙ…Ùَدًا عَبْدÙه٠وَرَسÙوْلÙه٠صَاØÙب٠الشÙَرَÙÙ ÙˆÙŽØ§Ù„Ù’Ø¥ÙØÙ’ØªÙØ±ÙŽØ§Ù…٠أَمÙَا بَعْدÙ. ÙَيَاأَيÙÙهَا النÙَاس٠أÙوْصÙيْكÙمْ ÙˆÙŽÙ†ÙŽÙْسÙيْ Ø¨ÙØªÙŽÙ‚ْوَى الله٠Ùَقَدْ Ùَازَ Ø§Ù„Ù’Ù…ÙØªÙÙŽÙ‚Ùوْنَ. Ùَقَالَ الله٠تَعَالَى اÙÙ†ÙÙŽ اللهَ ÙˆÙŽ مَلَائÙÙƒÙŽØªÙŽÙ‡Ù ÙŠÙØµÙŽÙ„ÙÙوْنَ عَلَى النÙَبÙÙŠÙ٠يٰأَيÙÙهَا الÙَذÙيْنَ أٰمَنÙوْا صَلÙÙوْا عَلَيْه٠وَ سَلÙÙÙ…Ùوْا تَسْلÙيْمًا. اَللÙٰهÙÙ…ÙÙŽ صَلÙ٠وَسَلÙÙمْ عَلٰى سَيÙÙØ¯Ùنَا Ù…ÙØÙŽÙ…Ùَد٠وَ عَلٰى أٰل٠سَيÙÙØ¯Ùنَا Ù…ÙØÙŽÙ…Ùَد٠كَمَا صَلÙَيْتَ عَلٰى سَيÙÙØ¯Ùنَا Ø§ÙØ¨Ù’رَاهÙيْمَ وَبَارÙكْ عَلٰى سَيÙÙØ¯Ùنَا Ù…ÙØÙŽÙ…Ùَد٠وَعَلٰى اٰل٠سَيÙÙØ¯Ùنَا Ù…ÙØÙŽÙ…Ùَد٠كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيÙÙØ¯Ùنَا Ø§ÙØ¨Ù’رَاهÙيْمَ وَعَلٰى اٰل٠سَيÙÙØ¯Ùنَا Ø§ÙØ¨Ù’رَاهÙيْمَ Ùْي الْعَالَمÙيْنَ اÙÙ†ÙÙŽÙƒÙŽ ØÙŽÙ…Ùيْدٌ مَجÙيْدٌ اَللÙٰهÙمَ٠وَارْضَ عَن٠الْØÙÙ„ÙŽÙَاء٠الرÙÙŽØ§Ø´ÙØ¯Ùيْنَ. وَعَنْ اَصْØÙŽØ§Ø¨Ù نَبÙÙŠÙÙÙƒÙŽ اَجْمَعÙيْنَ. وَالتÙÙŽØ§Ø¨ÙØ¹Ùبْنَ ÙˆÙŽØªÙŽØ§Ø¨ÙØ¹Ù التÙÙŽØ§Ø¨ÙØ¹Ùيْنَ ÙˆÙŽ ØªÙŽØ§Ø¨ÙØ¹ÙÙ‡Ùمْ اÙلٰى يَوْم٠الدÙÙيْنÙ. اَللÙٰهÙمَ٠اغْÙÙØ±Ù’ Ù„ÙÙ„Ù’Ù…ÙØ³Ù’Ù„ÙÙ…Ùيْنَ ÙˆÙŽØ§Ù„Ù’Ù…ÙØ³Ù’Ù„ÙÙ…ÙŽØ§ØªÙ ÙˆÙŽØ§Ù„Ù’Ù…ÙØ¤Ù’Ù…ÙÙ†Ùيْنَ ÙˆÙŽØ§Ù„Ù’Ù…ÙØ¤Ù’Ù…ÙنَاتÙ. اَللÙٰهÙÙ…ÙÙŽ ادْÙَعْ عَنÙَا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالØÙَاعÙوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْÙÙØªÙŽÙ†ÙŽ Ù…ÙŽØ§ لَا يَدْÙَعÙه٠غَيْرÙÙƒÙŽ عَنْ بَلَدÙنَا هٰذَااÙنْدÙوْنÙيْسÙÙŠÙَا ØÙŽØ§ØµÙَةً وَعَنْ Ø³ÙŽØ§Ø¦ÙØ±Ù بÙÙ„ÙŽØ§Ø¯Ù Ø§Ù„Ù’Ù…ÙØ³Ù’Ù„ÙÙ…Ùيْنَ عَامÙَةً يَا رَبÙÙŽ الْعَالَمÙيْنَ. رَبÙَنَا اٰتÙنَا ÙÙÙŠ الدÙÙنْيَا ØÙŽØ³ÙŽÙ†ÙŽØ©Ù‹ ÙˆÙŽ ÙÙÙŠ الْاٰØÙرَة٠ØÙŽØ³ÙŽÙ†ÙŽØ©Ù‹ ÙˆÙŽ Ù‚Ùنَا عَذَابَ النÙÙŽØ§Ø±Ù Ø¹ÙØ¨ÙŽØ§Ø¯ÙŽ Ø§Ù„Ù„Ù‡Ù Ø§ÙÙ†ÙÙŽ اللهَ ÙŠÙŽØ£Ù’Ù…ÙØ±Ù Ø¨ÙØ§Ù„Ù’Ø¹ÙŽØ¯Ù’Ù„Ù ÙˆÙŽØ§Ù„Ù’Ø§ÙØÙ’Ø³ÙŽØ§Ù†Ù ÙˆÙŽÙŠÙŽÙ†Ù’Ù‡ÙŽÙ‰ عَن٠الْÙÙŽØÙ’شَاء٠وَالْمÙنْكَرÙ. ÙŠÙŽØ¹ÙØ¸ÙÙƒÙمْ لَعَلÙÙŽÙƒÙمْ تَذَكÙَرÙوْنَ. ÙÙŽØ§Ø°Ù’ÙƒÙØ±Ùوا اللهَ الْعَظÙيْمَ ÙŠÙŽØ°Ù’ÙƒÙØ±Ù’ÙƒÙمْ. ÙˆÙŽ Ø§Ø´Ù’ÙƒÙØ±Ùوْه٠عَلٰى Ù†ÙØ¹ÙŽÙ…ÙÙ‡Ù ÙŠÙŽØ²ÙØ¯Ù’ÙƒÙمْ. وَلَذÙكْر٠الله٠اَكْبَر٠Ustadz Syakir NF, alumnus Pondok Buntet Pesantren Cirebon Konten ini hasil kerja sama NU Online dan Biro Humas, Data, dan Informasi Kementerian Agama RI Uncategorized